Sosok Misterius, Mobil Terbang Hingga Aroma Mistis di Balik Hilangnya Martinah (Bagian 1)

0
223
SUAMI Martinah, Lupio (kiri) didampingi kerabatnya, Tarjo (tengah) ketika berbincang dengan wartawan inibengkulu.com, Sabtu (3/3).

MARTINAH (46), perempuan asal Desa Marga Bakti, D5, Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara yang dinyatakan hilang sejak Rabu, 28 Februari lalu, akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat. Meski demikian, hilangnya Martinah masih menyimpan sejuta misteri yang hingga kini belum terungkap.

Sebuah rumah semi permanen, dengan cat warna putih tampak sepi ketika disambangi wartawan media ini, Sabtu (3/3) sore, pukul 15.34 WIB. Namun tidak demikian dengan rumah disebelahnya. Sisa-sisa keramaian masih jelas terlihat. Dari luar terlihat tikar masih membentang di ruang tamu. Di halaman depan rumah yang agak sempit, tiga unit motor terparkir rapi.

inilah informasi yang beredar saat Martinah menghilang

Seorang perempuan kira-kira berusia 35 tahun, bergegas masuk ke rumah di sebelahnya ketika melihat kedatangan kami. Tak lama kemudian ia kembali keluar rumah. “Dari mana pak,” ketusnya dengan nada penuh selidik ketika kami menanyakan rumah Martinah.

Kami pun langsung memperkenalkan diri. Meski begitu, sambutan yang diberikan masih dingin dan penuh kecurigaan. Setelah terdiam beberapa saat, perempuan itu akhirnya bersedia memberi tahu rumah Martinah.

Informasi yang kami terima, rumah Martinah adalah rumah awal yang kami tuju. Rumah semi permanen dengan cat warna putih. Namun keraguan muncul sebab yang agak ramai justru rumah di sebelahnya. Untuk mendapat kepastian kami pun mencoba bertanya. Ternyata, rumah di sebelahnya merupakan rumah orang tua Martinah. Selama menghilang, sanak kerabat lebih banyak berkumpul di sana, bukan di rumah yang ditempati Martinah dan suaminya. Bahkan di dapur rumah itu juga Martinah pertama kali ditemukan.

Setelah mendapat kepastian, kami pun langsung mendatangi rumah yang ditunjuk. Pintu samping yang terbuka menjadi tujuan kami, sebab pintu depan rumah dalam kondisi tertutup rapat. Setelah mengucap salam, kami disambut tiga orang pria yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan. Satu orang agak berumur, satu lagi agak muda, berusia kisaran 28 tahunan dan satu lagi seorang pria paruh baya dengan jenggot panjang berumur lebih kurang 48 tahun. Ternyata pria terakhir inilah suami Martinah yang bernama Lupio.

Tatapan mencurigakan dan pertanyaan-pertanyaan menyelidik langsung menerpa kami. Saat kami mengutarakan niat hendak wawancara, Lupio dan dua pria yang mendampinginya tidak langsung meng-iyakan. Bahkan terkesan sedikit keberatan kejadian yang menimpa istrinya ditulis lagi di media. Untuk meyakinkan dirinya, Lupio menelpon sejumlah orang guna memintai pendapat apakah menerima permintaan wawancara atau tidak. Sekilas yang kami dengar, salah seorang yang ditelepon adalah kepala dusun (kadun) dan satu orang kerabat terdekat.

Tidak begitu jelas bagaimana pendapat orang yang ditelepon, namun yang kami dengar, kadun tidak bisa datang karena sedang berada di kebun. Setelah menelpon beberapa kali, akhirnya kami diminta menunggu kedatangan salah seorang kerabat untuk mendampingi selama proses wawancara. Tak lama berselang, orang dimaksud tiba. Dia bernama Tarjo. Setelah sedikit berbincang, akhirnya Lupio bersedia menerima tawaran wawancara. Namun sebelum perbincangan dimulai, kami diminta untuk menunjukkan ID card sebagai bukti kalau kami benar-benar wartawan. (red-bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here