Sebelum Meninggal, Ingin Melihat Wajah Cucu dari Mekah

0
594
Eni, anak kelima dari almarhumah menunjukkan foto ibunya semasa hidup. (foto/Mezi Aswari)
KABAR meninggalnya Hayuya Sahmi Anang (81), salah seorang jemaah haji asal Bengkulu Utara mengagetkan keluarga besar yang ada di Arga Makmur. Apalagi, saat berangkat ke tanah suci, Hayuya tidak mengidap penyakit serius. Namun, sebelum dikabarkan meninggal, Hayuya sempat menghubungi keluarga lewat video call dan meninggalkan kesan-kesan mendalam untuk terakhir kalinya. Bagaimana kisahnya? Simak laporan berikut.

MEZI ASWARI, Arga Makmur

SUASANA duka tampak menyelimuti kediaman salah seorang anak Hayuya di Gang Pelajar Kelurahan Purwodadi Kecamatan kota Arga Makmur tadi pagi. Keluarga dan jiran tetangga silih berganti berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa sekaligus mendoakan almarhumah.

Anak kelima dari almarhumah yakni Eni tampak memeluk foto sang ibunda semasa hidup. Meski sedikit terbata-bata dan mata masih memerah, Eni menceritakan sepenggal kisah sebelum sang ibunda meninggal dunia kepada awak media.

“Ibu meninggal dunia tadi malam sekira pukul 10.30 Waktu Arab Saudi (WAS), sesaat setelah tiba di Musdalifah,” ujarnya lirih.

Diceritakan Eni, sebelum dikabarkan meninggal, ibunya sempat menghubungi dirinya lewat video call. Saat itu ibunya mengaku akan berangkat ke Arafah untuk melaksanakan wukuf.

“Dalam percakapan itu, ibu mohon doa sebab mereka besok akan berangkat ke Arafah. Setelah itu ibu bilang, ingin sekali melihat cucunya  yang bernama Ziyah. Tak berselang lama setelah melihat wajah Ziyah, tiba-tiba hubungan terputus dan kita tidak ada komunikasi lagi,” kenang Eni.

“Barulah sampai pada pukul 02.45 WIB tadi malam, saya mendapat info dari kakak saya Muhafi Putwanto dan istrinya Badiah yang mendampingi ibu selama menunaikan ibadah haji, menyampaikan kabar bahwa ibu sudah meninggal dunia,” lanjutnya dengan sedikit terisak.

Eni mengungkapkan sebelum berangkat, ibunya masih dalam kondisi sehat. Maksudnya tidak dalam kondisi sakit parah atau menderita penyakit serius. Kakaknya yang mendampingi selama di tanah suci juga terus memonitor kondisi kesehatan ibunya.

“Memang ibu sempat menderita batuk, tapi itu masih wajar karena kondisi cuaca disanakan jauh berbeda dengan kita dan umur beliau juga sudah uzur yakni 81 tahun,” ujarnya.

Terlepas dari apapun penyebabnya, Eni mengaku keluarga sudah ikhlas dan sabar. Menurut dia, ini mungkin jalan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT untuk ibunya.

“Saat ini almarhumah meninggalkan 6 orang anak dan 6 menantu serta 12 cucu dan 2 cicit. Kami ikhlas dan doa kami semua menyertai semoga ibu tenang di alam sana,” ujarnya mengakhiri.

Kepala Kemenag Kabupaten BU, Heriansyah kepada inibengkulu.com mengatakan, almarhumah meninggal setelah sampai di Musdalifah dan status almarhumah sudah haji. Terkait pemakaman, biasanya jemaah haji yang meninggal saat menjalankan ibadah haji dimakamkan di kawasan Mekkah yakni di dareah Seraya. Lokasi ini memang dikhususkan untuk lokasi pemakaman warga pendatang khususnya para jemaah haji yang meninggal.

“Atas nama Kemenag kami menyampaikan rasa berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga yang ditinggalkan, semoga almarhumah mendapatkan safaat dari yang maha kuasa dan ditempatkan di posisi yang mulia di hadapan Allah SWT,” ucapnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here