Potret Buram Desa Lebong Tandai

0
334
Warga teerpaksa harus berjalan kaki karena angkutan molek tidak bisa melintas akibat longsor.
Warga teerpaksa harus berjalan kaki karena angkutan molek tidak bisa melintas akibat longsor. (foto/ist)

KEKURANGAN fasilitas kesehatan, pendidikan serta terbatasnya akses transportasi seakan menjadi potret buram Desa Lebong Tandai saat ini. Apalagi Desa berjuluk “Batavia kecil” itu sekarang benar-benar terisolir sejak rel molek (kereta lori) yang menjadi alat transportasi utama masyarakat di sana amblas di sejumlah titik akibat longsor.

“Selain akses transportasi, yang paling kami rasakan saat ini kekurangan di fasilitas kesehatan pak. Saat ini di desa kami tidak ada bidan desa,” ungkap Kepala Desa Lebong Tandai, Supriyadi ketika dibincangi inibengkulu.com belum lama ini.

Warga Lebong Tandai saat akan berangkat menaiki molek atau kereta lori.

Menurut Supri, di desa mereka hanya ada perawat, itupun kurang maksimal dalam menangani pengobatan masyarakat. Jika perawatnya sedang keluar desa, masyarakat yang mendadak sakit terpaksa ditangani seadanya. “Hal inilah yang membuat kami sering kebingungan, mau berobat ke mana saat perawat tidak ada. Ditambah lagi dengan akses jalan terputus akibat longsor beberapa waktu lalu,” keluhnya.

Selaku kepala desa ia sudah mencoba berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten BU. Namun tidak mendapat solusi. “Berbagai alasan diungkapkan oleh pihak Dinkes seperti tenaga kesehatan di kota saja kurang, bagaimana mau memenuhi yang di daerah jauh. Jadi saya juga bingung harus berbuat apa untuk masyarakat saya,” terang Supriyadi.

Begitu juga dengan fasilitas pendidikan. Menurut dia, sekolah yang ada di sana masih sangat kekurangan fasilitas belajar mengajar. “Meja banyak yang rusak, kursi banyak yang patah, papan whiteboard banyak yang sudah tidak layak digunakan. Banyak sekali kurangnya pak,” ucapnya.

Lebih parah lagi, tenaga pengajar juga mengalami kekurangan. Di sini Desa Lebong Tandai, tenaga pengajar yang PNS cuma ada dua, satu kepala sekolah dan yang satunya guru biasa namun jarang di berada di tempat.

“Seperti inilah penderitaan desa kami yang terisolir ini, saya selaku kepala desa berharap pemerintah daerah memperhatikan kami. Kepada para wakil rakyat juga kami berharap untuk bisa memperjuangkan hak-hak kami sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Bengkulu Utara,” pungkas Supriyadi. (mur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here