Lika-liku Perjalanan Karier Politik Ridwan Mukti

0
530

Dari Politisi Senayan Hingga “Tumbang” di Bumi Rafflesia.

Selasa (20/6), masyarakat Provinsi Bengkulu dihentakkan oleh kabar penangkapan Gubernur Ridwan Mukti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam OTT yang berlangsung pagi, berkisar pukul 09/05 itu, KPK berhasil mengamankan barang bukti uang tunai Rp 1 miliar. Selain RM, turut diamankan istri Ridwan Mukti, yakni Lilly Martiani Maddari serta dua orang kontraktor, Rico Dian Sari dan Direktur PT Statika Mitra Sarana, Jhoni Wijaya.

Penangkapan terhadap Ridwan Mukti tentu saja mengagetkan banyak pihak mengingat di awal masa kepemimpinannya pada 2016, Ridwan Mukti pernah menabuh genderang perang terhadap korupsi dan narkoba dengan menandatangani pakta integritas. Hal itu dilakukan bersama 1.108 pejabat eselon IV, III, II di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu. Acara itu pun dihadiri Ketua KPK, Agus Raharjo, Ketua Ombudsman, Amzulian Rifai, Kepala BNN Komjen Budi Waseso.
“Pakta integritas ini adalah awal dari perjalanan panjang kita untuk sama-sama berkomitmen, dilakukan secara terbuka agar janji saudara-saudara secara moral bisa dipertanggungjawabkan” ujar Ridwan ketika itu.
Dia mengatakan penandatangan pakta integritas bertujuan agar tata kelola pemerintah bersih serta bebas dari KKN, narkoba, dan bisnis. Bahkan, hampir setahun belakangan, bidang koordinasi supervisi dan pencegahan (Korsupgah) KPK mendampingi Pemprov Bengkulu guna mencegah terjadinya korupsi.
karena itu, keterlibatan Ridwan Mukti jadi tersangka kasus korupsi jadi ironi. Karena ia pun ikut meneken empat point pasta integritas plus siap mundur jika melanggar pakta integritas tersebut. Berikut pakta integritas yang diteken Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti di lapangan sport center Bengkulu di dekat Pantai Panjang, Bengkulu, pada 1 Maret 2016.
Pertama, tidak akan korupsi baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk apa pun dan berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya. Kedua, tidak akan melakukan kegiatan bisnis ke dalam atau penyebab konflik kepentingan terhadap kewenangan yang saya miliki.
Ketiga, tidak akan melibatkan diri dalam kegiatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang. Keempat, tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ketentuan aparatur sipil negara.

Mengawali Karir Sebagai Politisi Senayan

Dr. Drs. H. Ridwan Mukti, M.H, lahir di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 21 Mei 1963. Pria yang bersahabat dengan mantan ketua MK, Mahfud MD ini mengawali karirnya sebagai anggota DPR RI selama dua periode. Ketika masih di parlemen, ia menjabat Pimpinan Sidang pada Pertemuan Internasional Parlemen Muda Asia Eropa di Portugal, Bali, dan Italia.
Usai menjabat sebagai anggota DPR RI di senayan, Ridwan Mukti “pulang kampung” untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Musi Rawas. Dengan bekal jaringan dan modal yang mumpuni, Ridwan Mukti berhasil menang bahkan hingga menjabat untuk dua periode. Ridwan Mukti terpilih menjadi bupati pada pemilihan kepala daerah (pemilukada) tahun 2005, untuk periode 2005-2010. Lalu ia dipilih kembali untuk kedua kalinya pada pemilukada 2010 untuk periode pemerintahan 2010-2015.
Awalnya Ridwan Mukti yang lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Universitas Sriwijaya (Unsri) ini berniat maju dalam pemilihan gubernur Sumatera Selatan (Sumsel). Sejumlah atribut sudah disebar di beberapa daerah. Bahkan Ridwan bersama timnya juga sudah mulai turun ke akar rumput guna mencari simpati pemilih. Namun peta berubah setelah Ridwan membatalkan pencalonannya di Sumsel dan beralih pada pilkada Gubernur Bengkulu.
Kehadiran Ridwan Mukti di panggung politik Bengkulu mulanya sempat membawa harapan baru bagi sebagian masyarakat yang “haus” akan pembangunan. Ini mengingat kabar yang beredar jika selama memimpin Musi Rawas, Ridwan mampu merubah wajah kabupaten pemekaran dari Lubuklinggau itu menjadi lebih baik. Saat menjadi Bupati Musi Rawas, Ridwan banyak mengembangkan infrastruktur dasar seperti jaringan jalan dan jembatan serta listrik. Selain itu dia juga universitas dan rumah sakit.
Saat menjabat, Ridwan Mukti juga dikenal dekat dengan rakyat. Ridwan juga dapat mewujudkan pengembangan transportasi udara yang menjadikan daerahnya semakin tak berjarak dengan Jakarta. Dia juga dikenal banyak memiliki relasi dengan banyak kalangan tinggi di dalam maupun di luar negeri. Ridwan juga dikenal membawa budaya kerja yang cepat dan disiplin di semua lini pemerintahan Musi Rawas.
Karenanya, perlahan tapi pasti Ridwan mulai mendapat simpati masyarakat Bengkulu. Menjelang pemilihan, Ridwan makin menunjukkan “taringnya” dengan menyapu bersih partai politik yakni PAN, Gerindra, Hanura, PKB, PKPI, Nasdem, Golkar dan PPP sehingga hanya menyisakan satu pasangan calon yakni Sultan Nadjamudin dan Mujiono Sultan Bakhtiar Najamudin-Mujiono yang diusung PDIP dan Demokrat). Pertarungan head to head itu akhirnya dimenangkan oleh Ridwan Mukti yang berpasangan dengan Rohidin Mersyah.

Heboh “Lubuk Kecik Buayo Galo”

Ekspektasi yang tinggi masyarakat akan kepemimpinan Ridwan Mukti akhirnya membuahkan kekecewaan. Geliat pembangunan yang diharapkan tak kunjung datang. Di awal memimpin, pria yang pernah menjabat Ketua Umum ICMI Sumsel ini hanya disibukkan dengan mutasi pejabat. Para pejabat yang ditunjuk merupakan pejabat impor dari Provinsi tetangga, Sumsel. Yang lebih mengecewakan lagi, sang gubernur malah kerap melontarkan statemen yang menyakiti hati masyarakat Bengkulu. Salah satu yang paling heboh yakni pernyataannya yang menyindir Bengkulu “lubuk kecik buayo galo”. Sindiran ini merujuk pada makna banyaknya pelaku korupsi di Bengkulu. Hal ini tak pelak mengundang reaksi keras dari para tokoh Bengkulu. Namun Ridwan bergeming, reaksi keras tokoh-tokoh Bengkulu seakan tak membuatnya terpengaruh.

Terjaring OTT KPK

“Bengkulu tanah keramat. Siapa yang menyakiti masyarakat Bengkulu, pasti akan mendapat celaka“, begitu orang-orang sering berkata saat menyesali pernyataan Ridwan yang menyakiti hati masyarakat Bengkulu. Dan celaka itu akhirnya datang pada hari Selasa, tanggal 20 Juni 2017. Ridwan Mukti beserta istrinya serta dua orang kontraktor terkena OTT komisi anti rasuah, KPK.
Pernyataan lubuk kecik buayo galo pun kembali mengemuka. Namun kali ini berbalik menyerang Ridwan Mukti. Masyarakat menyebut, ternyata Ridwan Mukti-lah sang “rajo buayo”, dalam artian rajanya korupsi.
Penangkapan Ridwan Mukti ini menjadi akhir perjalanan karir politik sang politisi Golkar. Gubernur Bengkulu (non aktif) ini dan istrinya Lily Martiani Maddari divonis 8 tahun penjara. Pembacaan putusan berlangsung di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu, Kamis(11/01).
Selain hukuman penjara, keduanya juga dikenakan denda sebesar Rp 400 juta subsidair 2 bulan kurungan serta dicabutkan hak politik selama 2 tahun.
Putusan ini dibacakan majelis hakim yang diketuai oleh Hakim Ketua Admiral, Hakim Gabriel dan Nick Samara, dan Panitera persidangan Irwan Hamedi. Atas putusan ini, Ridwan Mukti masih pikir-pikir. Jika melihat sepak terjang Ridwan Mukti selama ini, tampaknya Ketua Dewan Pakar KAHMI Sumatera Selatan belum akan menyerah. Apalagi masih ada upaya lain yang bisa ditempuh yakni banding dan kasasi. Akankah Ridwan Mukti bisa lolos? kita tunggu saja drama selanjutnya. (red)

Baca juga: RM – Lily Divonis 8 Tahun Penjara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here